Beranda Opini Dampak Pandemi Covid-19 bagi Pendidikan di Indonesia

Dampak Pandemi Covid-19 bagi Pendidikan di Indonesia

793
0
BERBAGI

Oleh: Syifa Aulia*

Pada 30 Januari 2020, WHO (World Health Organization) mengumumkan darurat kesehatan masyarakat global. Beberapa waktu kemudian, tepatnya 11 Februari 2020, WHO mengumumkan virus baru bernama ”Covid-19”. Sejak saat itulah kasus pandemi COVID-19 menyebar ke banyak Negara tidak terkecuali Indonesia.

Dikutip dari laman resmi kemkes.go.id, terhitung hingga saat ini yakni pada selasa (15/9/2020) tercatat jumlah pasien positif COVID-19 mencapai 225.030 orang, dan yang meninggal sebanyak 8.965 orang. Terlihat begitu besar dampak pada kesehatan yang dirasakan dari pandemi ini.

Tidak hanya dalam bidang kesehatan, pandemi COVID-19 juga merambah ke aspek lain di Negara Indonesia, salah satunya adalah dunia pendidikan. Dengan adanya ketetapan baru dalam beraktivitas yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia semasa pandemi COVID-19 ini, bentuk pembelajaran baru pun diterapkan oleh Mentri Pendidikan Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. yaitu dengan sistem pembelajaran jarak jauh atau sering disebut (PJJ) yang dilakukan secara daring.

Banyak pihak yang kontra terhadap sistem pembelajaran baru ini, baik dari pihak siswa sendiri, dari tingkat SD hingga tingkat pendidikan tinggi seperti perkuliahan, orang tua atau wali, hingga tenaga pendidik seperti guru. Para siswa mengeluh akan bentuk pembelajaran yang semakin mempersulit mereka untuk lebih faham akan materi yang dipelajari, menurut mereka, penjelasan langsung dari guru seperti pada umumnya dikelas lebih efektif dan mudah ditangkap.

Selain susahnya memahami pelajaran yang ada, masalah keuangan pun menjadi dilemma besar bagi para siswa, serta orang tua atau walinya, karena seperti yang kita tahu bahwa system pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini menerapkan metode online atau daring yang memerlukan jaringan internet sedangkan kuota yang digunakan untuk mengakses internet tersebut harus dibeli dengan biayanya yang tergolong masih tinggi untuk beberapa anak. Selain itu, perlengkapan elektronik seperti smartphone, laptop dan lain sebagainya tidak semua siswa memiliki, bahkan orang tua merekapun sampai mati-matian berusaha mencari dana demi anaknya bisa belajar.

Tak dipungkiri masalah biaya ternyata juga dapat menimbulkan masalah baru yang lebih besar. Salah satunya adalah kesenjangan sosial, dengan adanya kesenjangan sosial, demi bisa menyesuaikan kehidupannya dengan situasi yang ada saat ini, banyak orang yang menghalalkan segala cara demi membiayai pendidikan anak anak nya semasa pandemi, seperti contoh kasus Juru Parkir di Medan berinisial “ZA” yang nekat mencuri motor. Dikutip dari laman Pikiranrakyat.com, ZA mengaku nekat mencuri sepeda motor untuk membeli handphone anaknya agar dapat belajar online atau daring.

Bahkan Pandemi COVID-19 ini juga berdampak pada diri siswa itu sendiri, yaitu terhadap keadaan jiwa nya atau psikologi nya. Keharusan akan penyesuaian akademis, pembatasan sosial, dapat menimbulkan perasaan negatif. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti berbicara dalam sebuah acara KPAI di Jakarta, Senin (29/6/2020) bahwa Banyak siswa yang stres hingga putus sekolah selama ikuti PJJ daring. Beliau juga berkata “Banyak siswa stres hingga putus sekolah selama ikuti PJJ daring”.

Tidak sedikit pula para guru yang menegeluh akan pendidikan yang berlangsung saat pandemic COVID-19 ini, salah satunya adalah ibu Rika, seorang guru matematika SMPN Padang, yang berkesempatan diwawancari oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Jokowi Dodo, secara virtual melalui video call pada sabtu (12/9/2020) . Dalam pembicaraan itu ia mengungkpakan bahwa mereka tidak bisa memantau apakah seorang siswa mampu atau tidak menguasai suatu pelajaran dan banyak anak yang mengeluh rindu dengan sekolahnya.

Terlepas dari dampak negatif dari pandemic COVID-19 dalam bidang pendidkan yang dirasakan baik oleh siswa, orang tua atau wali bahkan para tenaga pendidik di Indonesia, ternyata pandemi ini juga memiliki sisi atau dampak positif.

Dengan diterapkannya sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Indonesia, Negara kita dipicu untuk mentransformasikan pendidikan kita lebih cepat. Sistem PJJ yang berbasis teknologi tentu mengharuskan lembaga pendidikan, guru, siswa bahkan orang tua agar cakap teknologi. Hal ini memicu percepatan transformasi teknologi pendidikan di negeri ini. Ini tentu berdampak positif karena penggunaan teknologi dalam pendidikan selaras dengan era Revolusi Industri 4.0 yang terus merangsek maju.

Pandemi Corona juga membuat ide-ide baru bermunculan. Para ilmuwan, peneliti, dosen bahkan mahasiswa berupaya melakukan eksperimen untuk menemukan vaksi Covid-19.Seperti yang dilakukan oleh alumni UGM yang membantu mengatasi kekurangan masker dengan membuat masker yang bisa dicuci ulang. Tidak hanya itu, kreativitas lain yang juga tidak kalah menarik, seperti mahasiswa Rumah Bahasa UI yang menjadi relawan Covid-19 dan membantu mengedukasi masyarakat.

Selama masa pandemi ini, peserta didik tentu akan menghabiskan waktu belajar di rumah. Di mana ini menuntut adanya kolaborasi yang inovatif antara orang tua dan guru sehingga peserta didik tetap bisa menjalani belajar online dengan efektif.

Selain itu, kolaborasi yang inovatif dapat mengatasi berbagai keluhan selama menjalani belajar online. Ini akan memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan baik di masa kini maupun masa mendatang.

Sikap yang seharusnya kita lakukan dalam situasi sekarang adalah tetap mendukung dan memberikan saran yang positif terhadap langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah Indonesia sendiri dalam mempertahankan keberlangsungan pendidikan yang berkulaitas di Indonesia semasa pandemi baik dari segi perlengkapan sarana dan prasarana terutama teknologi dan pemberian bantuan untuk para siswa Indonesia sebagai penunjang pendidkan mereka.

Selain itu tetap menjaga kesehatan dan atuhi protokol kesehatan yang ada agar mengurangi risiko meningkatkanya penularan infeksi virus C0VID-19 saat ini. Sehingga pandemi segera berakhir dan sistem pendidikan di Indonesia kembali normal dan terus berkembang. ***

*Mahasiswa Jurusan Sarjana Terapan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes, Yogyakarta